Rabu, 10 Oktober 2012

Dampak Negatif dari Teknologi

Dampak negative perkembangan teknologi telepon dari segi sosial
518153903_bd252cce55.jpg
1. Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).
2. Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi.

manusia menjadi malas untuk bersosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitar. Dengan fasilitas yang dimiliki oleh HP, maka di zaman yang serba canggih dan modern ini segalanya bisa dilakukan dengan duduk di tempat tanpa perlu beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan aktivitas seseorang. Mulai dari mengisi pulsa, transfer uang, memesan tiket, belanja, hingga memesan makanan dapat dilakukan tanpa beranjak dari tempat sedikitpun. Memang akan menjadi lebih mudah tetapi orang akan lebih tidak peduli dengan rasa sosial.
Dampak negative perkembangan teknologi telepon dari segi kesehatan
Mula-mula semua orang memang senang dan tak ada yang risau tentang bahaya yang timbul dari alat-alat itu. Akan tetapi setelah orang makin tahu bahwa alat itu memancarkan gelombang elektromagnetik, yang jahatnya seperti sinar X dan ultraviolet kalau terlalu lama menimpa orang, maka mulailah negara-negara industri risau.
Kerisauan dipacu oleh berita bahwa gelombang magnetik mikro dari telepon genggam yang dinyalakan terus-menerus dalam pesawat udara mengganggu hubungan radio antara pilot pesawat dan menara pengatur lalu lintas udara di bandara. Bayangkan kalau gangguan itu diikuti oleh kekaburan informasi sampai perintah pendaratan ditafsirkan salah, lalu timbul tabrakan pesawat di udara! Malapetaka itu hanya gara-gara sinar gelombang mikro dari telepon genggam yang dinyalakan terus-menerus. Sejak itu, penumpang pesawat dilarang menyalakan telepon genggamnya pada waktu pesawat sedang tinggal landas dan ketika hendak mendarat.funny-people-talking-phone-in-the-white-cubes-thumb1438506.jpg
gelombang elektromagnetik dari alat-alat elektronik itu mempengaruhi kesehatan orang?
Kita ingat, semua sinar ultra rendah seperti sinar ultraviolet dari matahari dan sinar X yang dipancarkan alat pemotret organ tubuh kita, nyata sekali menggetarkan molekul yang dilaluinya, lalu menimbulkan friksi dan panas kalau tubuh terlalu lama dipaparkan padanya.
Sinar yang dipancarkan telepon genggam, juga sama-sama berupa gelombang mikro. Kalau terlalu lama ditempelkan pada telinga, berikut antenanya yang menyentuh kepala, telepon genggam itu membuat orang agak pusing karena pembuluh darah di lehernya menyempit sampai meningkatkan tekanan darah. Dalam penelitian di Jerman ditemukan bahwa pemaparan selama 35 menit meningkatkan tekanan darah sampai 5 - 10 mmHg, kalau telepon terus-menerus dipakai mengobrol dan menempel pada telinga. Bagi penderita tekanan darah tinggi, kenaikan sebesar itu sudah membahayakan.
Berbagai negara penghasil telepon genggam kemudian merancang undang-undang agar alat yang diproduksi di kemudian hari disertai alat peredam, hingga tidak berbahaya bagi para penderita tekanan darah tnggi.
Namun sebelum alat-alat itu disempurnakan dengan alat pengaman, kita di Indonesia yang sampai kini masih dipaparkan pada sinar gelombang mikro alat-alat kuno, sebaiknya berhati-hati dan menghindari pancaran sinar itu dari telepon genggam.
Solusinya dengan tidak memakai alat itu kalau tidak perlu benar. Kalaupun perlu memakai telepon genggam, misalnya, jangan terlalu lama sampai melebihi setengah jam.

Televisi dan Komputer Ganggu Perkembangan Anak
Sudah menjadi fenomena umum bahwa kini banyak orang tua yang membiarkan anak-anak mereka - bahkan sejak usia pra sekolah - asyik menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau bermain komputer. Bagi orang tua, selama anak-anak merasa senang, kebiasaan ini tidak pernah di anggap sebagai ancaman.

Padahal membiasakan anak-anak menonton televisi atau bermain komputer, ternyata memiliki dampak negatif khususnya bagi perkembangan otak dan kejiwaan anak.
Peringatan akan ancaman serta dampak buruk televisi dan media elektronik lainny terhadap perkembangan anak diungkapkan oleh seorang ahli dari Inggris belum lama ini. Salah satu pesan pentingnya adalah anak-anak pra sekolah seharusnya tidak dibiarkan menonton televisi atau bermain dengan komputer, supaya otaknya berkembang dengan sempurna.
Seorang ahli perkembangan anak, Dr Aric Sigman, mengatakan bahwa telah banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kebiasaan duduk di depan layar komputer atau televisi berjam-jam dapat menimbulkan pengaruh buruk pada anak-anak khususnya untuk jangka panjang.
Kebijakan pemerintah Inggris, yang memperbolehkan para guru secara legal menunjukkan bagaimana mengoperasikan komputer atau televisi justru telah mengakibatkan anak-anak berada dalam risiko besar.
Anak-anak berusia tiga tahun yang menonton televisi terbukti mengalami kesulitan dengan pelajaran matematika, membaca dan pemahaman bahasa di sekolah. Keping DVD yang mengklaim dapat melatih bayi dan anak-anak yang baru bisa berjalan justru diduga dapat menghambat proses pembelajaran bahasa.
Selain itu, program-program kekerasan , film dan game juga dikenal dapat mempengaruhi fungsi kerja otak anak-anak, dan dapat mendorong timbulnya agresi dan sifat impulsif.
Lebih dari setengah populasi anak-anak berusia tiga tahun di Inggris memiliki televisi di kamar mereka dan dua pertiga di antaranya selalu menonton televisi sebelum pergi ke sekolah.
Anak-anak yang memiliki televisi di kamar tidurnya cenderung sulit untuk mengembangkan kemampuan membaca ketika beranjak enam tahun. Dan seperempat dari anak -anak berusia lima tahun di Inggris tercatat memiliki laptop atau perangkat komputer sendiri.
Statistik ini seharusnya membuat kita untuk mempertimbangkan sebuah kebijakan untuk membuat perlindungan bagi anak-anak dalam perkembangannya, menyediakan semacam buffer zone dari media elektronik yang begitu kuat.
Pada usia yang rentan di mana anak-anak mulai melihat cara hidup dengan spontan, peningkatan jumlah waktu yang dihabiskan untuk melihat tayangan setiap harinya, jumlah layar di kamar-kamar tidur anak dan bahkan alat-alat kecil seharusnya membuat kita semua berhenti dan merenung.
Komputer Bagi Anak
kemunculan teknologi komputer sendiri sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari alat ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak.
Diantara manfaat yang dapat diperoleh adalah penggunaan perangkat lunak pendidikan seperti program-program pengetahuan dasar membaca, berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan pula, kini perangkat pendidikan ini kini juga diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka.
Manfaat lain bisa diperoleh anak lewat program aplikasi berbentuk games yang umumnya dirancang untuk tujuan permainan dan tidak secara khusus diberi muatan pendidikan tertentu. Beberapa aplikasi games dapat berupa petualangan, pengaturan strategi, simulasi, dan bermain peran (role-play).
Dalam kaitan ini, komputer dalam proses belajar, akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Sisi baiknya, anak dapat menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi.
Namun, sisi mudhorot penggunaan komputer tak juga bisa diabaikan. Salah satunya adalah dari kemungkinan anak, kemungkinan besar tanpa sepengetahuan orangtua, ‘mengkonsumsi’ games yang menonjolkan unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresif ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak.
Akses negatif lewat internet
Pengaruh negatif lain, adalah terbukanya akses negatif anak dari penggunaan internet. Mampu mengakses internet sesungguhnya merupakan suatu awal yang baik bagi pengembangan wawasan anak. Sayangnya, anak juga terancam dengan banyaknya informasi buruk yang membanjiri internet.
Melalui internetlah berbagai materi bermuatan seks, kekerasan, dan lain-lain dijajakan secara terbuka dan tanpa penghalang. Nina mengungkapkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa satu dari 12 anak di Canada sering menerima pesan yang berisi muatan seks, tawaran seks, saat tengah berselancar di internet.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan orangtua, yaitu:
Pertama, orangtualah yang seharusnya mengenalkan internet pada anak, bukan orang lain. Mengenalkan internet berarti pula mengenalkan manfaatnya dan tujuan penggunaan internet. Karena itu, ujar Nina, orangtua terlebih dahulu harus ‘melek’ media dan tidak gatek.
‘Sayangnya, seringkali anaknya sudah terlalu canggih, sementara orangtuanya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana membuka internet, juga tidak tahu apa-apa soal games yang suka dimainkan anak. Nanti ketika ada akibat buruknya, orangtua baru menyesal.
Kedua, gunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan.
Ketiga, letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
Cegah kecanduan
Pengaruh negatif lain bagi anak, adalah kecendrungan munculnya ‘kecanduan’ anak pada komputer. Kecanduan bermain komputer ditengarai memicu anak menjadi malas menulis, menggambar atau pun melakukan aktivitas sosial.
Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Seharusnya, orangtua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.
Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain komputer adalah satu-satunya kegiatan yang menarik bagi anak. Pengaturan ini perlu diperhatikan secara ketat oleh orangtua, setidaknya sampai anak berusia 12 tahun. Pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik.
Peran penting orangtua
Menimbang untung ruginya mengenalkan komputer pada anak, pada akhirnya memang amat tergantung pada kesiapan orangtua dalam mengenalkan dan mengawasi anak saat bermain komputer. Karenanya, kepada semua orangtua peran penting mereka dalam pemanfaatan komputer bagi anak.
Pertama, berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari pada saat ini dan masa yang akan datang.
Kedua, perhatikan bahwa komputer juga punya efek-efek tertentu, termasuk pada fisik seseorang. Karena perhatikan juga amsalah tata ruang dan pencahayaan. Cahaya yang terlalu terang dan jarak pandangan terlalu dekat dapat mengganggu indera penglihatan anak.
Ketiga, pilihlah perangkat lunak tertentu yang memang ditujukan untuk anak-anak. Sekalipun yang dipilih merupakan program edutainment ataupun games, sesuaikan selalu dengan usia dan kemampuan anak.
Keempat, perhatikan keamanan anak saat bermain komputer dari bahaya listrik. Jangan sampai terjadi konsleting atau kemungkinan kesetrum terkena bagian tertentu dari badan Central Processing Unit (CPU) komputer.
Kelima, carikan anak meja atau kursi yang ergonomis (sesuai dengan bentuk dan ukuran tubuh anak), yang nyaman bagi anak sehingga anak dapat memakainya dengan mudah. Jangan sampai mousenya terlalu tinggi, atau kepala harus mendongak yang dapat menyebabkan kelelahan. Alat kerja yang tidak ergonomis juga tidak baik bagi anatomi anak untuk jangka panjang.
Keenam, bermain komputer bukan satu-satunya kegiatan bagi anak. Jangan sampai anak kehilangan kegiatan yang bersifat sosial bersama teman-teman karena terlalu asik bermain komputer.
DAMPAK KOMPUTER BAGI KESEHATAN
Tenyata tak selamanya kemajuan dunia komputer berdampak positif bagi manusia. Salah satu hal yang paling mudah diamati adalah dampak komputer bagi kesehatan individu pemakainya. Dan dari semua keluhan kesehatan yang pernah ada, kebanyakan keluhan datang dari para pengguna laptop. Laptop atau notebook sebagai sarana mobile-computing memang dirancang seefesien mungkin untuk dapat dengan mudah dibawa ke manapun. Namun efesiensi yang didapat dari penggunaan laptop ini rupanya harus dibayar mahal dengan mengorbankan faktor ergonomic yang sangat berperan dalam menjamin kenyamanan dan kesehatan sang pemakai.
Salah satu kasus gangguan kesehatan dalam penggunaan laptop dialami oleh Danielle Weatherbee (29 tahun) dari Seattle, seperti yang ditulis dalam buku Using Information Technology. Karena kebiasaannya sehari-hari yang mempergunakan laptop di mana pun berada, ia kemudian mengalami gangguan tulang belakang. Setelah diperiksa, dokter mendapati tulang belakangnya sudah seperti seorang berusia 50 tahun. Inilah salah satu akibat dari dikorbankannya nilai ergonomic sebuah barang, dalam hal ini laptop.
Secara luas, memang dikenal beberapa gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pemakaian komputer, antara lain Repetitive Stress/Strain Injury (RSI), Kelelahan Mata dan Sakit Kepala, Sakit Punggung dan Leher, dan Medan Elektromagnetik. Lebih lanjut mengenai Repetitive Stress/Strain Injury (RSI) sendiri adalah sakit pada pergelangan tangan, lengan, tangan dan leher karena otot-ototnya harus bekerja cepat dan berulang. Hal ini dapat menjadi semakin parah jika sang pemakai komputer tidak memperhatikan faktor ergonomic pemakaian komputer dalam jangka waktu lama. Faktor ergonomic sendiri sangat perlu diperhatikan untuk memperoleh kenyamanan dan posisi ideal yang sehat bagi tubuh selama pemakaian komputer.
Yang kedua adalah kelelahan mata dan sakit kepala. Sebenarnya ini merupakan keluhan yang paling banyak dikeluhkan para pemakai komputer, Computer Vision Sindrome (CVS) sendiri merupakan kelelahan mata yang dapat mengakibatkan sakit kepala, penglihatan seolah ganda, penglihatan silau terhadap cahaya di waktu malam, dan berbagai masalah penglihatan lainnya.
Untuk masalah medan elektromantik (EMF), sebenarnya telah marak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir ini. Banyak pihak yang mengkhawatirkan dampak medan magnetic yang terdapat pada berbagai jenis peralatan elektronik, termasuk komputer, terhadap para pemakainya. Mulai dari ketakutan akan gangguan kelahiran yang menyebabkan bayi lahir cacat hingga gangguan yang menyebabkan kanker, pernah menjadi isu seputar dampak medan magnetic. Akan tetapi hingga saat ini belum ada yang tahu pasti mengenai kebenaran dugaan tersebut. Namun begitu, di negara-negara maju seperti Inggris, pemerintahnya telah menganjurkan agar anak-anak di bawah umur mengurangi pemakaian barang-barang yang bermedan elektronik, termasuk komputer bagi anak. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Federal Communication Commission (FCC) sebenarnya telah membuat pengukuran khusus yang disebut Specifik Absorption Rate (SAR). SAR sendiri berfungsi untuk menyediakan data tingkat radiasi dari tiap type ponsel yang ada.
Teknologi dan Dampak Kebudayaannya
Tantangan dalam Laju Teknologi

Menghadapi kuatnya kecenderungan menggejalanya teknologi sebagai kekuatan otonom (J. Ellul) sehingga melahirkan teknokrasi dan akhirnya menjelma sebagai teknopoli (N. Postman), manusia masa kini akhirnya berhadapan dengan berbagai tuntutan dan tantangan yang ditimbulkan hasil ciptaannya sendiri, yaitu teknologi. Betapapun canggihnya, setiap teknologi adalah hasil daya cipta manusia.
Sejak bergulirnya era industrialisasi, maka selama dua abad terakhir dari milenium ke-2 ini kita tidak hanya menyaksikan teknologi maju secara konsisten, melainkan juga melaju melalui lompatan dan terobosan (leaps and breakthroughs), teristimewa pada lima puluh tahun terakhir abad ke-20 ini. Kemajuan teknologi begitu pesatnya, sehingga nyaris tiada bidang kehidupan manusia yang bebas dari terpaan dampaknya, cepat atau lambat dan langsung atau tak langsung. Perkembangan industrialisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi itu pula yang mengawali produksi sesuatu secara massal (mass production) dan tidak mungkin tertandingi oleh produktivitas yang diandalkan semata-mata pada kemampuan manusia.
Kalau direntang dalam periode sejak terjadinya revolusi industri hingga akhir abad ini, maka dua ciri menonjol dalam kinerja produksi ialah prosesnya yang digerakkan melalui mechanization and automation. Berbagai kegiatan manusia yang bersifat produktif berangsur-angsur diambil alih oleh kedua daya tersebut, bahkan dengan kemampuan yang berlipat ganda. Sejalan dengan meningkatnya kemampuan produktif itu pula maka makin kuat dukungan untuk produksi yang bersifat massal.
Kalau periode pertama sejak terjadinya Revolusi Industri ditandai oleh diambilalihnya berbagai fungsi manusia yang berupa kemampuan fisik, maka dalam lima puluh tahun terakhir ini fungsi manusia yang berupa kemampuan mental juga mulai diambil alih oleh teknologi. Teknologi komputer menjadi ilustrasi yang tepat untuk menunjukkan betapa teknologi pun berkesanggupan untuk menjadi perpanjangan atau pengganti kemampuan fungsi mental pada manusia. Maka dalam dua dasawarsa terakhir abad ini banyak pakar yang bersibuk diri dengan studi tentang apa yang dewasa ini terkenal dengan istilah artificial intelligence.
Gambaran komprehensif dan kritis tentang artificial intelligence dapat diperoleh dari buku Raymond Kurzweil, The Age of Intelligent Machines, yang menghimpun pendapat sejumlah pakar mengenai perkembangan intelligent machines.
Menjadi Surplus
Begitu eratnya keterjalinan antara manusia dan teknologi sebagai perpanjangan kemampuannya, sehingga yang asalnya merupakan minus dari kemampuannya (ability), bisa dikembangkan menjadi surplus bagi kesanggupannya (capability). Menurut fitrahnya manusia tidak mampu terbang, namun dengan teknologi dia mampu terbang, bahkan tinggal beberapa lama di angkasa luar; pertemuan tatap-muka (face-to-face) secara berhadapan juga dapat dilaksanakan dalam jarak amat jauh melalui tatap-citra (image-to-image).
Banyak lagi yang bisa dicontohkan sebagai ilustrasi untuk menunjukkan betapa teknologi telah memungkinkan terjadinya transformasi mendasar dan berskala luas –bahkan nyaris sulit dibatasi– dalam peri kehidupan manusia dan kemanusiaan. Transformasi tersebut juga telah menimbulkan perubahan dalam berbagai pola hubungan antar-manusia (patterns of human relations), yang pada hakikatnya adalah interaksi antar-pribadi (interpersonal relations) dan bersifat hubungan intersubjektif.
Seiring dengan kemajuan teknologi, ruang dan waktu sebagai dimensi eksistensial juga berubah secara kuantitatif maupun kualitatif, terutama oleh faktor kekuatan (power) dan kecepatan (speed); kedua faktor ini makin meningkat pengaruhnya seiring dengan berlanjutnya pemutakhiran dan pencanggihan teknologi. Pengaruh faktor kekuatan dan kecepatan itu terutama mencuat dalam perkembangan teknologi transportasi serta komunikasi dan informasi.
Dalam kaitan ini, kiranya secara khusus perlu dicermati perkembangan teknologi yang menunjang kesanggupan untuk menyebarkan informasi dengan daya jangkau global. Teknologi ini menerpa kita dengan bahan informasi secara bertubi-tubi serta melintas dengan kecepatan tinggi sekali lewat jaringan global yang diibaratkan sebagai super-highways. Kedua faktor itu pula yang menambah nilai efisiensi, sehingga keterlambatan penguasaannya niscaya juga berarti ketertinggalan dalam laju proses modernisasi.
Melampaui Kemampuan Manusia
Terpaan stimuli berupa bahan informasi yang berlangsung secara segera (instant) dan serentak (simultaneous) itu sangat jauh melampaui kemampuan manusia untuk menyerap dan mengendapkannya, kecuali dengan dukungan teknologi yang sepadan pula. Terwujudnya jaringan internet merupakan ilustrasi yang mengukuhkan betapa besar dampak mondial yang dapat ditimbulkan oleh kemajuan teknologi yang mendukungnya. Internet telah memberi wujud bagi keterbukaan dalam arti luas; keterbukaan berbagai sumber untuk memperoleh informasi, keterbukaan untuk menyebarkan informasi (tentu bisa juga yang bersifat mis- atau dis-informasi), keterbukaan menjalin komunikasi untuk berbagai kepentingan dari yang paling pribadi dan subjektif hingga yang paling lugas dan objektif.
Dari berbagai kenyataan yang menggejala dewasa ini makin nyatalah keberhasilan teknologi memberi struktur pada dunia manusia sebagai gelanggang akbar, yang diringkas sebagai suatu matriks interaksi. Sebagai konsekuensinya, tampaknya mustahil untuk mencegah kecenderungan akan menggejalanya berbagai pola baru dalam perilaku manusia, khususnya dalam interaksi antarpribadi yang mestinya berciri intersubjektif.
Perikehidupan manusia yang ditandai tempo-hidup (life-space) yang kian meninggi, berjalan seiring dengan dihayatinya ruang-hidup (life-space) yang kian menyempit karena meningkatnya keterjalinan manusia ke dalam berbagai jaringan interaksi. Anehnya, makin derasnya banjir informasi yang menerpa manusia pada analisis akhirnya berakibat terjadinya pemiskinan kemampuannya untuk menyimpan (retention) bahan informasi yang diterimanya dan juga kemampuannya untuk menampilkan kembali (retrieval) kesan-kesan yang tersimpan padanya. Namun, kedua kemampuan tersebut pun dapat digantikan oleh teknologi yang sepadan.
Maka dapat dimengerti kiranya, kalau dewasa ini makin kuat pula kecenderungan untuk memperbandingkan — bahkan menyamakan — fungsi otak manusia dengan komputer. Michael W. Eysenck dalam hubungan ini menyatakan: “Information processing in people resembles that in computers”. Kalau demikian halnya, maka tidak tertutup kemungkinan, bahwa dalam jangka panjangnya proses tersebut sebagian besar (atau sepenuhnya?) bisa diambil alih oleh kemampuan komputer yang makin dipercanggih.
Sebagai kelanjutan dari penerapan teknologi modern timbul pula keharusan untuk memperbarui berbagai tatanan yang ditujukan pada adanya keteraturan dalam kinerja manusia, secara individual maupun kolektif. Dalam kaitan ini makin menonjollah arti penyusunan organisasi dan perancangan sistem. Maka tidaklah mengherankan kalau serempak dengan penerapan teknologi modern, keterlibatan manusia dalam organisasi dan keterikatannya pada sesuatu sistem menjadi imperatif yang sulit disanggah. Bahkan boleh jadi manusia modern tidak punya pilihan lain bagi aktualisasi dirinya, kecuali melalui keterkaitannya ke dalam organisasi dan sistem tertentu yang secara apriori meletakkan berbagai rambu-rambu bagi perilakunya.
Rambu-rambu itu diperlukan antara lain demi terjaminnya disiplin kerja, fungsi birokrasi, kepatuhan hierarki, sinkronisasi, dan koordinasi antarsatuan kerja, kesinambungan arus masukan dan keluaran guna menjamin kelancaran kinerja, efektifnya pengawasan, dan pengendalian mutu, dan sebagainya. Kesemuanya ini menimbulkan tuntutan bagi diterapkannya suatu cara untuk mengelola keseluruhan organisasi dan sistem yang bersangkutan; tuntutan itu dipenuhi dengan diberlakukannya suatu ragam tata laksana kerja yang lazimnya disebut manajemen.
Sebagai unsur dalam organisasi dan sistem yang harus berjalan optimal demi mencapai sasaran tertentu, maka manusia terpaksa harus siap mengalami reduksi diri karena dibatasinya perannya sebagai salah satu unsur belaka dalam sesuatu konfigurasi fungsional. Sebagai unsur fungsional dia bisa saling dipertukarkan (interchangeable) atau bahkan diganti (replaceable).
Dalam era teknologi, pertukaran, maupun pergantian itu semakin mungkin dilakukan melalui substitusi manusia oleh peralatan. Kenyataan ini pun akan merupakan tantangan yang tidak mudah diatasi, bahkan berpengaruh memperumit masalah kesempatan kerja, karena meningkatnya jumlah pencari kerja yang timbul serentak dengan makin menyempitnya kesempatan kerja sebagai akibat makin terbukanya kemungkinan substitusi manusia oleh peralatan. Perlu ditambahkan bahwa kemajuan teknologi menuntut terisinya kesempatan kerja terutama berdasarkan profesionalisme dan expertise semutakhir mungkin. Tantangan ini tidak mudah dipenuhi, karena penguasaan sesuatu bidang keahlian juga harus berpacu dengan laju teknologi itu sendiri.
Teknokrasi dan Teknopoli pada Teknologi
Implikasi kemajuan teknologi berbeda dengan perkembangan ilmu. Dalam bidang ilmu, sesuatu tesis baru tidak dengan sendirinya berarti gagalnya keabsahan atau berlakunya tesis lama, sekalipun dirumuskan sebagai anti-tesis. Begitu pula, sesuatu teori baru tidak harus berarti usangnya teori terdahulu, meskipun disajikan sebagai kontra-teori. Beberapa tesis atau teori bisa saling bertahan dalam juxtaposisi dan masing-masing penganutnya tetap mempertahankan keabsahannya; bahkan sesuatu tesis atau teori lama bisa dimunculkan kembali
Sedang kemajuan teknologi ditandai oleh susul-menyusulnya proses pemutakhiran dan pengusangan. Setiap kali sesuatu teknologi dimutakhirkan selalu membawa konsekuensi dianggap usangnya pendahulunya. Kendatipun rentang masa hidupnya berbeda-beda, namun setiap teknologi mutakhir akan menjadikan pendahulunya tertinggal dan akhirnya usang.
Memperhatikan pesatnya laju kemajuan teknologi secara kuantitatif dan kualitatif dewasa ini, maka sangat boleh jadi daur pemutakhiran dan pengusangan itu akan terjadi dalam jangka waktu yang semakin singkat. Makin pesat laju kemajuan dalam sesuatu bidang teknologi, makin cepat pula berlansungnya susul-menyusul antara pengusangan dan pemutakhiran. Proses ini dapat digambarkan antara lain melalui kemajuan teknologi komputer dalam beberapa tahun saja belakangan ini. Sebagai konsekuensinya, usaha untuk menguasai teknologi yang terus-menerus mengalami pemutakhiran itu menuntut berkesinambungannya pelatihan dan pelatihan-ulang.
Menyaksikan kemajuan teknologi ini, Jacques Ellul berkesimpulan bahwa teknologi dalam zaman modern ini semakin berkembang sebagai autonomous force. Sebagai daya yang terus-menerus maju-dengan-pemutakhiran, akhirnya teknologi tampil sebagai kekuatan (kratos) yang dominan dalam kehidupan modern dan pascamodern. Teknologi yang asal mulanya diciptakan sebagai perpanjangan bagi kemampuan manusia, lambat-laun berbalik menjadikan manusia sebagai perpanjangannya, apalagi oleh makin bertambahnya ketergantungan manusia pada penyertaan teknologi dalam berbagai bidang kehidupannya.
Dominasi teknologi sebagai kekuatan yang makin berpengaruh dalam mengendalikan peri kehidupan manusia dan kemanusiaan itu oleh sejumlah filsuf akhir abad ini disebut sebagai gejala teknokrasi. Keterbiasaan manusia modern untuk hidup “bergandengan” dengan teknologi nyaris menjadi ketergantungan, sehingga kegagalan teknologi bisa bersifat katastrofal. Perhatikan apa kosenkuensinya, jika di Jakarta ini tiba-tiba putus semua aliran listrik.
Teknokrasi membawa berbagai konsekuensi terhadap kehidupan manusia umumnya, secara individual maupun kolektif. Sejalan dengan kemajuan teknologi dan makin menggejalanya teknokrasi, makin banyak pula pola dan kecenderungan baru yang muncul sebagai tanggapannya. Berubahnya pola interaksi antar-manusia dimungkinkan oleh intervensi peralatan; pola kerja pun berubah oleh dimungkinkannya substitusi unsur manusia oleh mesin, pembakuan sebagai ciri yang melekat pada peralatan berlanjut dengan tindakan penyeragaman (uniformity) terhadap keanekaragaman (pluriformity) sebagai kenyataan manusiawi.
Dengan pembakuan dan penyeragaman itu terbukalah kesempatan untuk pemassalan berbagai karya manusia dengan dukungan peralatan yang makin meningkat kesanggupan dan kecanggihannya untuk mengganti manusia sebagai potensi kerja.
Kiranya tidak berlebihan untuk menyatakan, teknologi dan teknokrasi niscaya akan membawa perubahan pula dalam gaya hidup manusia dan masyarakat modern. Jika demikian halnya, maka tidak keliru pula untuk menyatakan bahwa dominasi teknologi dan teknokrasi akan berlanjut dengan berseminya budaya baru yang melahirkan berbagai nilai baru pula yang cenderung menjadi acuan perilaku manusia modern dalam berbagai pola interaksi dengan sesamanya.
Dengan lain perkataan: di samping berdampak struktural pada perikehidupan manusia, teknologi dan teknokrasi juga membangkitkan proses kultural dalam masyarakat yang diterpanya. Inilah gejala yang oleh N. Postman disebut technopoly, yang olehnya digambarkan sebagai berikut: Technopoly is a state of culture. It is also a state of mind. It consist in the deification of technology, which means that the culture seeks its authorization in technology, finds its satisfactions in technology, and takes its orders from technology. Maka yang menjadi masalah ialah sejauh mana sesuatu masyarakat siap memasuki zaman yang ditandai oleh supremasi teknologi dan teknokrasi sebagai daya pembangkit budaya baru tanpa merapuhkan ketahanan budayanya sendiri.
Konformisme Perilaku
Lepas dari penilaian sejauh mana budaya baru itu tampil sebagai budaya-sandingan (sub-culture) atau budaya-tandingan (counter-culture) dalam hubungannya dengan budaya asli sesuatu masyarakat, kehadiran budaya baru itu sedikit banyak niscaya akan berpengaruh terhadap konformisme perilaku yang telah membudaya dan cukup mantap dalam masyarakat tertentu. Konformisme perilaku erat kaitannya dengan persepsi nilai kebudayaan dan norma kemasyarakatan sebagai acuan yang cukup menyeragamkan perilaku warga masyarakat yang bersangkutan. Maka kehadiran suatu budaya baru mudah menimbulkan gejala heteronomi yang mungkin menjadi sebab timbulnya kekaburan atau kegoyahan sumber konformisme perilaku termaksud.
Dalam masyarakat dengan teknologi maju cukup banyak contoh yang menunjukkan betapa heteronomi bisa mengakibatkan munculnya berbagai perwujudan perilaku menyimpang — bahkan bersifat ekstrem — yang bisa berakibat pertentangan antar-lapisan dan antar-golongan dalam masyarakat. Beberapa perilaku menyimpang itu bisa berwujud pelarian untuk menghindar dari pengaruh budaya baru, mungkin berupa pencemoohan sambil memperkenalkan sumber nilai lain sebagai alternatif (misalnya mistik, metafisik).
Kalau benar bahwa sejalan dengan dominasi — apalagi glorifikasi — teknologi cenderung muncul budaya baru, maka bidang yang sangat penting pengaruhnya dalam hubungan ini ialah peran teknologi transportasi serta komunikasi dan informasi. Melalui bidang-bidang ini meningkatlah pertemuan antar-budaya secara kuantitatif dan kualitatif, dan sejalan dengan itu semakin melaju pula berlangsungnya berbagai proses pembudayaan yang berskala mondial. Pertemuan antar-budaya tersebut seharusnya menjadi kesempatan saling-pengayaan wawasan pihak-pihak yang saling bertemu (mutualy insight-enhancing). Namun proses tersebut dalam kenyataannya dewasa ini lebih berlangsung sebagai arus satu arah, yaitu berlangsung sebagai banjir informasi dari pusat informasi global dengan dukungan teknologi canggih yang bebas melampias ke kawasan dengan penguasaan teknologi yang relatif tertinggal.
Pencanangan berlakunya Decade of Cultural Development oleh PBB mulai tahun 1988 untuk memperkukuh ketahanan budaya bangsa-bangsa dalam saling pertemuannya, ternyata tidak banyak artinya guna mencegah terjadinya arus pengaruh sepihak akibat terpaan proses pembudayaan yang berasal dari pusat-pusat global. Maka pada analisis ini akhirnya kita perlu membuat antisipasi tentang kemungkinan terjangkitnya gejala alienasi budaya disertai distorsi nilai-nilainya.
Perlu Dibenahi
Uraian di atas ini mungkin sekali mengesankan sikap negatif terhadap teknologi dan teknokrasi dalam perikehidupan manusia dan masyarakat. Kesan itu perlu segera dibenahi. Tujuan penyajian berbagai konsekuensi dari dominasi teknologi dan menguatnya gejala teknokrasi ialah agar kita tidak gampang terseret oleh sikap glorifikasi terhadap teknologi dan hasrat untuk serta-merta menerapkannya. Maka menyambut kenyataan tersebut kita perlu senantiasa menyadari bahwa betapa pun majunya teknologi, sebagai hasil karya manusia adalah perpanjangan bagi kemampuannya, dan bukan sebaliknya menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Betapa pun lompatan dan terobosan menandai kemajuan teknologi, manfaatnya harus diukur dari sejauh mana martabat dan kesejahteraan manusia terangkat olehnya, dan bukan sebaliknya berakibat pudarnya nilai-nilai manusiawi.
Itu sebabnya sejumlah filsuf menjelang peralihan abad ini memperingatkan, agar kemajuan teknologi tidak berakibat dehumanisasi dan despiritualisasi dalam perikehidupan manusia. Sebab betapa pun, manusia adalah pusat orientasi bagi dirinya; maka nilai kemanusiaan harus senantiasa diunggulkan di atas teknologi yang notabene merupakan hasil ciptaannya sendiri.
Dalam kegandrungan untuk menguasai dan menerapkan teknologi modern, sebaiknya kita juga menyisihkan waktu untuk mengamati munculnya berbagai gejala budaya baru dalam masyarakat yang telah menerapkan teknologi mutakhir dalam perikehidupannya. Dalam hubungan ini mestinya kita lebih dari sekadar melakukan studi dampak belaka; kita pun perlu mencurahkan perhatian pada studi perbandingan yang hasilnya bisa menjadi pedoman untuk kepentingan antisipasi terhadap berbagai risiko dan kontroversi yang boleh jadi akan menyertai penerapan sesuatu teknologi, sebagaimana misalnya terjadi dalam pengembangan dan penerapan teknologi nuklir dewasa ini, atau teknologi yang dikembangkan untuk memungkinkan dilahirkannya manusia unggul lewat eugenika; dan akhir-akhir ini juga melalui cloning demi membangun a brave new world.

Remote Working Isn’t Always Working
pertekkom-BI-2008 May 1st, 2008
Dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi memudahkan kita dalam dunia kerja terutama pekerjaan di kantor yang mengharuskan kita berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan dengan patner kerja dan client kita. Namun janganlah lengah dengan semua kecanggihan yang membawa pada efektif dan efisien dalam bekerja ini karena hal ini juga lah yang dapat membawa dampak negatif bagi kita.
SECURITAS / KEAMANAN DATA
Bekerja dengan sistem remote working , komputer, internet dan email merupakan hal yang sangat biasa. Ada lagi hal yang biasa kita temukan seiring dengan kehebatan teknologi komunikasi dan informasi selain unsur-unsur di atas yaitu virus. Virus membuat data kita dan komputer kita terancam, virus dapat menghapus data dan merusak kerja sistem komputer kita lebih tepatnya merusak seluruh pekerjaan dan hidup kita. Dramatis memang namun sekarang virus semakin beragam dan canggih sehingga membuat kita tidak sadar bahwa dia adalah virus. Contohnya seperti tulisan berikut ini.
1. GIRLS OF PLAYBOY HOAX
Virus ini berkategori hoax yang daya rusaknya lebih rendah dibanding worm, trojans, atau virus. Artinya, sebenarnya ini lebih merupakan semacam ledekan atau informasi palsu. Dilaporkan, virus yang menyebar melalui e-mail ini tidak menimbulkan kerusakan sehingga beberapa perusahaan pembuat antivirus tidak menganggapnya sebagai ancaman. Ingin tahu ujud olok-olok itu? Inilah dia.
clip_image001.jpg
girls-of-playboy-hoax.jpg
girls-of-playboy-hoax.jpg
2. NEPALESE TANTRA TOTEM
File ini juga bukan merupakan virus atau file berbahaya melainkan sebuah file Powerpoint Slideshow (.PPS). Jadi bentuknya jelas file data. Beberapa administrator jaringan boleh jadi mencurigai file ini, namun tidak ada macro yang terhubung dengan file ini. Bila Anda menemukannya, Anda dapat mengujinya dengan mengompres file ini menggunakan WinZip. Ia akan menjadi berukuran 310.272 byte. Cara menghapusnya gampang: buang
saja dari e-mail Anda dan jangan teruskan ke relasi lain!
3. WAZUP HOAX
Virus jenis ini juga bukan berdaya rusak tinggi dan tergolong olok-olok alias hoax. Hoax ini pertama kali beredar di lingkungan pengguna Internet berbahasa Perancis dan dicurigai juga berasal dari negeri anggur tersebut. Berikut ini salinan dalam versi bahasa Inggris dari pesan tersebut.
clip_image0011.jpg
wazup-hoax.jpg
wazup-hoax.jpg
4. PIKACHUS BALL HOAX
Sama dengan ketiga jenis hoax di atas, pesan e-mail ini juga termasuk kategori virus usil yang tak bertenaga. Tidak diterima laporan bahwa terjadi kerusakan akibat penyebaran virus ini. Virus ini tampaknya sekadar mengusili pengguna e-mail dan relatif awam terhadap ancaman virus. Mau tau ancaman atau koar-koarnya yang ditulis dalam huruf kapital semua?
clip_image0012.jpg
pikachus-ball-hoax.jpg
pikachus-ball-hoax.jpg
Kalau kita perhatikan berbagai jenis hoax di atas, sebenarnya virus-virus itu praktis tidak menimbulkan kerusakan apa pun di dalam sistem komputer kita. Namun, seringkali kita juga terjebak dengan ikut-ikutan menyebarkan pesan ancaman itu kepada relasi. Memang, pesan virus-virus baru akan melesat sedemikian pesat di belantara maya. Dan karena ketidaktahuan kita, seringkali kita berpartisipasi dalam penyebaran hoax.
PCplus belum menengarai, pesan-pesan tersebut dalam versi bahasa Indonesianya. Bila pernah menerima pesan serupa, nggak usah panik dan tidak perlu disebarkan kepada relasi. Cukup kita tendang saja dia ke “recycle bin”
SECURITAS SYSTEM
Telah diketahui oleh semua pengguna dan pemilik computer, bahwa kehadiran securitas tools dalam perangkat computer mereka sangatlah penting. Securitas tools berfungsi sebagai satpam atau penjaga bagi data, program dan system computer kita. Banyak produk securitas tools yang ditawarkan, seperti Avira, Mc afee,Symantec,AVG dan lainnya.
Jadi securitas tools membantu kita untuk mengamankan data, program dan system yang ada dari hacker dan cracker,serta menolak virus yang mencoba masuk ke system computer. Namun ada kekurangan dari securitas tools ini,pengguna harus sering-sering membaharui program (up date) ini. Sehingga para pengguna menjadi sangat bergantung terhadap securitas tools ini. Dan lagi bukan tidak mungkin virus-virus, para hacker dan cracker sengaja melakukan hacking dan cyber crime lainnya. Hal ini mungkin dilakukan untuk meningkatkan penjualan produk mereka.
Penjualan terhadap securitas computer product akan terus mengalami peningkatan. Hal ini mengingat pesatnya kemajuan teknologi dan semakin banyaknya masyarakat yang mulai menggunakan computer dan internet system khususnya di Indonesia.
Dan sebaiknya pemerintah Indonesia memerdayakan SDM yang ada untuk membuat program pengaman dan pelacak guna mengatasi Cyber crime untuk Indonesia. Karena daripada mereka menjadi hacker dan cracker, lebih baik mereka ikut memajukan sekaligus berbakti bagi nusa dan bangsa dengan keterampilan yang mereka punya.

Sumber:

 PCplusTABLOID KOMPUTER No.16/II/7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar